Kalau Orang Lain Bisa, Kita Nggak Harus Ikutan Bisa
Pepatah "Kalo orang lain bisa, kenapa kita enggak?" memang ada benarnya. Kalau aku sendiri mengartikan pepatah tersebut dengan 'kemampuan bawaan atau bakat sangat bisa dikalahkan oleh kerja keras, selagi kita berusaha, nggak ada yang nggak mungkin'. Bener nggak sih? Nggak ada yang salah dari pepatah itu. Tapi beberapa hari lalu aku sadar, di era digital seperti saat ini, kita perlu sedikit memahami, bahwa pepatah tadi terkadang bisa menjadi boomerang ketika kita meletakkannya pada konteks yang salah.
Beberapa tahun belakangan, saat internet menjadi begitu mudah untuk diakses, dan media sosial mulai banyak digunakan, membuat kita memiliki 2 dunia yang berbeda. Kehidupan maya kita semakin hari semakin menjadi nyata. Apalagi kita, orang Indonesia, yang menurutku masih kesulitan memilah mana yang privasi dan mana yang layak untuk di share. Dimasa seperti ini, kita seperti mampu melihat detail-detail kehidupan orang lain yang bahkan belum pernah kita temui. Dari pakaian apa yang ia miliki, rutinitas hariannya, sudut-sudut rumahnya, riwayat pendidikannya, hingga skill-skill ajibnya. Kita jadi lebih sering mengcompare kehidupan kita dengan kehidupan orang lain, apalagi kalo mereka satu generasi dengan kita. "Kok dia di umur segitu udah bisa kayak gitu ya.." "Sumpah keren banget sihh dia.., kalo gua mah bisa apa?!" Iya apa iya? Apa cuma aku aja nii :)
Mengcompare diri kita dengan orang lain itu ternyata nggak sehat banget. Entah kita menjadi inferior atau superior, kalau yang menjadi objek bandingannya adalah orang lain, itu bukan hal yang bisa terus kita lakukan. Hidup ini bukan persaingan dengan mereka, tapi persaingan dengan diri kita sendiri. Itu yang menjadikan pentingnya kita mengetahui value dan misi hidup kita, sehingga kita nggak jadi salah fokus. Nggak jadi serakah sama barang-barang yang lagi hits, atau skill-skill yang lagi banyak dipelajari orang. Kalo bicara skill, kita perlu menentukan prioritas dimana kita menginvestasikan waktu, energi, dan pikiran kita buat terus berkembang. Keinginan kita emang banyak banget ya.., pengen bisa ini itu, dan kadang suka tercampur sama mimpi orang lain. Kalo aku sendiri lagi pengen belajar editing, belajar bahasa korea, mulai nulis lagi walau acak adul, menambah perbendaharaan vocab bahasa inggris, dan memperdalam wawasan per Kdrama-an, wkwkwkwk.. banyak banget kan? Belum lagi per 23 Agustus besok dah masuk kuliah, semakin padat lah itu jadwal :) Waktu kita terbatas, cuma 24 jam perhari. Dan lagi-lagi, itu pentingnya kita benar-benar mengenal diri, sebenernya apasih yang gue mau, hal yang bener-bener gue banget, yang gue rela mati-matian kerja keras dan bisa bangga dan puas sama hasilnya meskipun nol validasi dan apresiasi dari orang lain.
Hidup kita itu bukan kayak sekolah, utamanya di Indonesia, yang harus bagus di semua mapel, minimal di atas KKM lah. Bukan. Kalo ngomongin itu, aku jadi mau sedikit cerita tentang komunitas yang baru aku masuki semingguan ini. Komunitas Ruang Edit namanya. Niat utamanya buat memperdalam skill editing aku yang masih bayik banget wkwk. Jadi sistemnya, setiap 2 hari sekali kakak-kakak admin bakal share materi di grup dan jam 12 an siang biasanya para member udah pada memenuhi chat untuk setor dan minta koreksian. Skill-skill yang dibagikan memang random banget, karena ruang edit ini komunitas editing secara general, bukan fokus ke satu gaya, satu cara atau satu aplikasi edit aja. Aplikasi yang digunain banyak banget, dari picsart yang udah banyak dikenal orang, sampe aplikasi benime yang baru aku tahu beberapa hari lalu. Kadang ada skill-skill editing yang itu bukan aku banget, tapi karena aku cukup perfectionist:), aku terus aja berkutat di dalamnya sampe bener-bener ngerasa puas, apalagi kalau lihat member-member lain yang pada bagus-bagus hasilnya. Nah inilah yang jadi masalah.
Ada beberapa hal yang mau enggak mau harus kita eliminasi dalam kehidupan kita. Nggak harus dieliminasi 100%, terkadang cukup perlu kurangi porsinya aja. Waktu kita terbatas. Kita nggak bisa perfect dan jago dalam semua hal, apalagi kalau itu ternyata sekedar mengikuti tren atau karena kita nggak mau tertinggal dari orang-orang di sekitar kita. Kita seringkali ngak sadar dengan apa yang kita lakukan, perlu banget untuk mengenal diri, mengetahui apa value diri, prioritas diri, tujuan hidup, dan masih banyak yang lain. Istilahnya kalo sekarang mah mindfulness atau hidup berkesadaraan. Telisik diri lebih dalam dan coba tanya ke diri kita, "apasih alasan gue ngelakuin semua ini?". Jangan sampai ternyata apa-apa yang kita lakukan, bahkan sesuatu yang benar-benar menyita waktu kita, kita kerjakan demi menggapai validasi orang lain.
Hidup kita itu tentang menjadi diri kita. Be how you are. Bukan, bukan membiarkan hidup mengalir sesuka kita, tapi berusaha selalu menjadi lebih baik dengan diri kita sendiri sebagai parameternya. Membandingkan diri kita saat ini dengan keadaan diri yang ideal.
Be the best version of yourself.
#selfreminder #selfreminder #selfreminder #selfreminder #selfreminder #selfreminder #selfreminder #selfreminder
Last but not least, so gratefull to join with u, Ruang Edit, keluarga baru yang solid parah. Jujur bersyukur banget join di komunitas ini sebelum masuk kuliah karena waktu adaptasiku memang tergolong lambat wkwk. Akhir-akhir ini aku bener-bener sadar banyak banget ilmu baru yang bermanfaat dan bener-bener aku pakai di luar dari projekan ruang edit ini. Thank you dah buat hari-hari terakhir liburan semester ku bermanfaat.. 💗
dari draf tanggal 17/08/2021
Komentar
Posting Komentar